Mawar Ungu



Once upon a time, 20 years ago...
Ngantuk, penat dan membosankan tapi tetap harus aku jalani pesantren kilat ini. Entahlah, sebuah keinginan kuat dari dalam diri agar aku harus mengikuti kegiatan-kegiatan positif agar tidak terbawa arus pergaulan tidak baik diluar sana. Sesaat setelah kak Sulaiman selesai memberikan pengajarannya aku secara refleks merebahkan diri, bayangkan saja harus duduk bersila selama 2 jam menulis di karpet tipis. Tapi itu kesalahan fatal karena aku saat itu berada dibarisan belakang para ikhwan yang disambung dengan barisan para akhwat tepat dibelakangku.

Lembut, empuk, dan harum... oh my god aku merebahkan diri tepat dipangkuan seorang gadis cantik yang saat itu hanya terdiam, malu bercampur kaget membuat pipinya merona merah memaku pandanganku. aku segera berdiri dan berlari keluar ruangan *sebuah kebodohan yang selalu terkenang, menjadi pertemun pertamaku dengan sang mawar ungu.

Mawar ungu katanya adalah perlambangan cinta pertama, atau bahkan mungkin cinta pada pandangan pertama entahlah. Tapi sejak saat itu, fikiranku tak pernah bisa lepas dari bayangan wajahnya yang tidak dapat aku gambarkan. Wajah itu, senyuman itu, lalu selidik punya selidik ternyata dia selama ini satu sekolah denganku lalu kenapa sudah 2 tahun aku tidak pernah melihat dia disekolah, atau mungkin aku tidak pernah melihat dia karena sibuk dengan masa kenakalanku yang mencetak rekor buku hitam di ranking ke 2 karena membawa amunisi kacang hijau sebanyak 1 kilo untuk perang ketapel jari.

-o0o-

Bel sekolah berbunyi pertanda selesai proses belajar mengajar untuk hari ini, namun aku yang biasanya langsung berlari ke tempat permainan dingdong (bagi pembaca mungkin langsung tergambar pada jaman apa aku hidup saat itu hahahaha) saat itu hanya terdiam di gerbang sekolah. Menanti seseorang yang sudah aku niatkan dari sejak kemarin malam... hanya untuk sekedar mengucapkan ulang tahun.

Mawar ungu yang kunanti akhirnya mucul juga, berjalan berdua dengan sahabatnya. Aku tidak serta merta menyongsongnya tapi hanya mengikutinya dari belakang berbaur dengan hiruk pikuk para siswa yang bersama-sama bubar sekolah.

Tidak mudah bagiku untuk mengumpulkan keberanian hanya sekedar mengucapkan kata selamat ulang tahun, padahal dengan gadis lainnya aku bahkan bercanda dan lebih seringnya menjahili mereka tanpa ada rasa canggung sedikitpun. Hingga pada satu momen, pada saat keberanianku sudah cukup terkumpul segera aku mempercepat langkah berjalan beriringan dengan mereka berdua.

"Hai, selamat ulang tahun ya..." aku bahkan lupa dia menjawab apa saat itu, yang pasti dalam sekejap keberanian itu habis bak seember air yang terguling dan tumpah tidak bersisa. Aku segera berjalan menjauhi dengan coba menyunggingkan senyum termanisku dan ketika sudah cukup jauh jarak yang ada antara aku dan dia aku mengambil langkah kaki seribu. Bahkan perjalanan menuju rumah yang sangat jauh pun tak terasa... hanya terngiang terus jawabannya *sayang aku sudah lupa dia berkata apa...

Mawar Ungu... mawar yang tak pernah mati disudut taman hatiku. Walau kadang layu dan aku tinggalkan, namun mawar itu selalu ada disana, menanti untuk aku petik. Tapi apakah aku punya cukup keberanian lagi untuk memetiknya ? seorang bodoh yang hanya bisa memandangi indahnya mawar itu tanpa pernah bisa memilikinya...

0 comments: